LEWAT SYAIR
Oleh Melya Dwi Astuti
Sepi merayap, sunyi senyap, dingin menusuk kulit,
wangi yang menebar dimana-mana, itulah keadaan tempat dimana ia berada saat
ini. Wanita 25 tahun yang bernama Diyanah Zabir yang berarti beragama kuat, duduk
di samping tempat suaminya beristirahat. Sambil melantunkan doa, ia menatap
lembaran kertas berisi syair-syair karyanya waktu masih menjadi seorang santri,
tak sadar air matanya mulai meleleh. Sebelum ia mengusap air matanya dengan
saputangan, air matanya telah mengering tertiup angin yang semakin sore semakin
kencang. Ia mulai teringat Desember setahun yang lalu, saat pertemuan pertama
dan saat-saat bersama dengan Danial Kauthar
Zahin yang berarti nikmat yang banyak
dari kecerdikan, yang dipanggilnya Mas Kauthar, suaminya.
Berawal dari syair karya Diyanah Zabir tentang makna
kehidupan yang dipajang di mading Pondok Pesantren Bahauddin. Sehari setelah
pemajangan syairnya, Diyanah penuh dengan kiriman bunga, hadiah, dan pujian.
Bagaimana mereka tidak terkesima dengan karyanya, inspirasi itu diambil dari
kisahnya waktu ia masih menjadi anak jalanan yang tak tentu arah hidupnya, kemudian
ia bertemu dengan Kyai Sa’id yang mengajaknya untuk mencari ilmu di pondok
pesantrennya. Ia mendalami ilmu agama Islam, ia mendekatkan diri dengan Allah.
Ia juga tak lupa untuk mendoakan kedua orang tuanya yang telah tiada, ia
menangis jika mengingat kedua wajah mereka. Tetapi Kyai Sa’id megajarkan untuk menjadi
manusia yang tegar dan selalu bertawakal kepada Allah. Hingga kini ia menjadi
murid kepercayaan kyai.
Anak kyai yang bernama Kauthar, menceritakan betapa
terkesima dirinya membaca syair karya Diyanah Zabir itu.
“Abi, karya ini luar biasa. Baru pertama kalinya aku membaca syair sehebat itu. Ini membuat aku
tersadar betapa besarnya kasih sayang abi dan umi, betapa beruntungnya aku
hidup seperti ini,” puji seseorang yang sering dipanggil preman pondok pesantren
oleh teman-teman kuliahnya yang tiba-tiba berkata lebih halus.
“Kau sudah bertemu dengan Diyanah atau sudah
mengirimkan hadiah sebagai pujian untuknya?”tanya kyai pada anak bungsunya.
“Ada apa ini? Kok ada kata Diyanah,”tanya umi dengan
penasaran yang tiba-tiba datang dari dapur.
“Ini umi, anak bungsu kita terkesima dengan karya Diyanah,”
jelas kyai.
Belum selesai membicarakan karya Diyanah, terdengar
ucapan salam.”Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, lho sudah pulang? Kapan-kapan
calon menantu abi sama umi diajak kesini, kita ingin bertemu dengannya,”
perintah umi kepada anak sulungnya yang bernama Ghibran.
Mendengar
ucapan umi tentang pacar Mas Ghibran yang katanya seorang Dosen Fiqih muda, dia
tidak tahan mendengarnya karena selama ini dia hanya dekat dengan gadis yang
jauh dengan Tuhannya. Dia langsung meninggalkan ruang tengah.
Seminggu,
dua minggu sejak pemajangan syair ia belum juga memberikan ucapan ataupun
hadiah yang sudah ia beli dua minggu yang lalu yaitu sebuah baju muslim berwarna putih yang indah, ia tak mau
menitipkan barangnya itu kepada orang lain, ia ingin secara langsung
memberikannya kepada Diyanah. Tetapi, ia berfikir bahwa seorang Diyanah yang
pintar mengaji tak mau bertemu dengan orang
sepertinya.
“Mana mungkin Diyanah mau menemuiku mungkin malah
takut melihat diriku yang seperti ini. Sadar dong!!!” fikirnya, padahal Diyanah
mau menemui siapa saja asal tidak mengganggunya.
“Ehm, Assalamu’alaikum” ucapan salam Ghibran yang
tiba-tiba datang.
“Wa’alaikumsalam. Ada apa mas?” jawab Khautar sambil
menyembunyikan hadiah untuk Diyanah.
“Gini ya, pesan mas, temui saja dia. Dia tidak
memandang siapa yang dia temui. Kamu kan belum pernah bertemu dengan dia? Gimana
kamu mau bertemu dengan dia, shalat saja kamu di rumah, terus tidak pernah mengunjungi
pondok pesantren.”lontar kakaknya.
“Tapi pesan mas, sebelum bertemu dengan dia, ubah
dulu dirimu,”ucap ustad muda yang sambil berlalu meninggalkan adiknya.
“Kini 3 minggu sudah, hadiahnya belum gue berikan.
Mana umi udah curiga kalau gue yang tiba-tiba lembek gini.”
Di ruang
tengah ia seperti berbicara serius pada
ayahnya.
“Abi, abi sebenarnya sudah tahu kan kalau aku,” tanya
Khautar.
Belum selesai Khautar bicara, abi langsung
menyambungnya,”Sudah dari pertama syair itu dipajang. Berikanlah langsung benda
itu. Abi tidak mau anak abi tidak jantan seperti ini.”
“Baiklah abi, aku akan segera memberikan hadiah ini,
dan juga aku akan mengucapkan kalau aku akan menikah dengannya. Karena syair
itu mengubah segalanya,”jawab Khautar tanpa berfikir panjang.
“Apa ? menikah itu tidak semudah apa yang kau
bicarakan. Lagi pula kamu belum tau Diyanah,” ucap kyai yang begitu kaget
mendengar anaknya mau menikah.
“Anggap saja ini permintaan terakhirku kepada abi,
aku benar-benar ingin hidup berdampingan dengannya. Saat aku membaca syairnya,
hatiku menjadi tenang. Apalagi dapat hidup berdampingan dengan dia pasti
hidupku akan damai,” anak itu menjawab dengan nada memaksa.
Kyai
yang mendengar permintaan anaknya, jadi tidak bisa tidur. Karena dia khawatir
apakah Diyanah mau menikah dengannya dan apakah Khautar dapat manjalankan rumah
tangganya. Umi yang tidur disampingnya juga ikut memikirkannya.
Pagi harinya, karena merupakan pagi yang cerah, para
santri berhamburan ke halaman untuk berolahraga seperti yang telah dijadwalkan
oleh Pak Aldon. Kyai mengajak Khautar untuk menemui Diyanah seperti apa yang
telah direncanakan dirinya dengan istrinya.
“Apa kamu jadi mau bertemu dengan Diyanah?” tanya
ayahnya.
“Jadi, umi sama abi setuju dengan apa yang akan aku lakukan?” ungkap Khautar
sambil memeluk ayahnya.
Kebetulan
Diyanah baru ada di serambi masjid sendirian. Kyai dan anaknya mulai
menemuinya. Perasaan Khautar yang tidak tenang terus-menerus bergemuruh di
dalam dadanya. Saat sudah mendekati serambi, kyai memanggil Diyanah. Kemudian
mereka bertemu di serambi masjid.
“Maaf kyai, ada apa ini?’ tanya Diyanah yang agak
kaget melihat diri Khautar.
“Ini ada seorang penggemarmu yang mau menemui mu.
Saya tinggal sebentar ya. Assalamu’alaikum,” jawab kyai sambil meninggalkan
mereka berdua agar dapat leluasa. Ia juga menyuruh marbot Masjid mengawasi
mereka, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Perkenalkan, aku Khautar. Ini ada hadiah untukmu
atas kehebatan syairmu, tapi ini sudah sangat terlambat,” Khautar yang berusaha
bersikap tenang dan memandang wajah Diyanah seperti sumber pancaran cahaya.
“Terimakasih. Saya Diyanah. Saya baru tahu jika anda
putra dari kyai yang bernama Khautar. Selama ini saya hanya mendengar nama yang
luar biasa itu dari mulut ke mulut,” jawabnya singkat dengan senyuman yang
tercampur dengan rasa takut.
“Yah, terimakasih juga atas pujianmu. Tapi aku hanya
mau mengatakan,”
“Mau mengatakan apa mas?” tanya Diyanah yang penuh
penasaran.
“Apa kamu takut melihatku, apa kamu risih
memandangku?” tanya Khautar yang agak keras.
“Sama sekali tidak,” dia berusaha berbohong agar
tidak menyakiti hati Khautar.
“Baiklah, aku hanya akan mengatakan. Menikahlah denganku!”
kata-kata Khautar yang lebih halus.
Mendengar
kalimat dari mulut Khautar yang tiba-tiba manis itu, dia seakan mau menangis.
Selama ini dia tidak pernah berfikir, kalau dia akan menikah dengan seseorang
yang berpenampilan seperti preman.
“Bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang
sepertinya? Bagaimana masa depanku jika aku hidup berdampingan bersama orang yang baru ku kenal untuk sampai
hayatku. Lagi pula aku tidak mencintainya. Tetapi dia putra kyai, bagaimanapun juga aku harus
menghormati dan menghargainya, tanpa beliau aku tak akan berdiri di sini. Jika
aku menolak, aku dikira tidak tahu balas budi. Bertahun-tahun ini yang
menghidupiku juga kyai. Aku tinggal
dan menuntut ilmu di sini tanpa biaya. Apakah aku harus membayarnya dengan cara
seperti ini? Ya Allah berikanlah petunjuk kepada hambamu ini,” kata-kata dalam
hatinya yang penuh tanda tanya.
Dia
meminta waktu untuk menjawab pertanyaan yang sangat berat baginya. Dalam shalat
malamnya, doanya penuh dengan kata Khautar, rasa gundah, sulit, bimbang, dan
bingung. Baru pertama kalinya bertemu dengan lelaki yang belum pernah tersimpan
dalam hatinya, tetapi nama Mas Ghibran
sering muncul di dalam hatinya, karena ia sering mengisi ceramah di setiap
ngajinya. Lelaki dambaan santri putri di Pondok Pesantren Bahauddin itu sangat
jauh berbeda dengan adiknya. Ia telah lama mengagumi sosok seperti Mas Ghibran.
Bahkan ia pernah berangan-angan menjadi istri Mas Ghibran. Selama ini Mas
Ghibran selalu dekat dengannya tapi hanya semata-mata untuk berdiskusi
dengannya mengenai pengajian di pondok pesantren.
Seminggu
setelah pertanyaan dari Khautar dan tepatnya 4 minggu setelah pemajangan syair
Diyanah Zabir. Diyanah mengatakan bahwa,” Aku akan menikah denganmu.” Khautar
yang tak pernah sebahagia itu memunculkan terik wajah yang amat bahagia,
bersinar hangat seperti fajar yang baru terbit dari ufuk timur.
Persiapan
pernikahan telah matang, Diyanah yang semakin cantik dan anggun dengan busana
pengantin yang ia kenakan, Khautar yang tampak tampan dengan jas putihnya, abi dan umi begitu terkesima melihat wajah
binar dari Khautar yang baru mereka lihatnya kali ini, mereka juga baru
menyadari Khautar lebih tampan dari Ghibran, yang waktu itu ia memakai jas putih
juga karena pernikahan dilaksanakan oleh 2 pasang pengantin.
Kehidupan
rumah tangga Khautar dengan Diyanah di pikiran kyai sepertinya akan dingin, jika terus menerus dingin akan ada masalah
dan membuat adanya perpisah. Berbeda dengan rumah tangga Ghibran yang selalu hangat
diselumiti dengan cinta mereka, tapi dugaan itu salah selama rumah tangga
mereka berjalan, banyak perubahan dari sikap Khautar. Diyanah baru sekarang
tertawa lepas, yaitu saat-saat bersama Khautar. Entah kenapa, kebersamaan
dengan Khautar yang tidak dilandasi dengan cinta berjalan senyaman itu. Setelah
sholat berjamaah, pasangan pengantin baru itu mulai tadarus Al-Quran di rumah
barunya. Kali ini yang terkesima Diyanah, waktu mendengar Ghibran membaca
Al-Quraan dia terkagum, tapi kali ini ia lebih terkagum mendengar Khautar yaitu
sosok lelaki seperti preman melantunkan ayat-ayat Al-Quran yang teramat indah.
Hingga air matanya menetes. Setelah membaca Al-Quran, Khautar mendapati
istrinya meneteskan bulir-bulir air matanya, kemudian Khautar memeluknya.
Pagi
yang tidak mendukung, langit dipenuhi oleh barisan-barisan awan hitam, dan
mentari yang menyembunyikan senyuman hangatnya. Ia masih teringat dengan
lantunan- lantunan semalam oleh suaminya, ini membuat hatinya tenang dan rasa
yang belum pernah ia rasakan muncul. Seharusnya pagi cerah, secerah hatinya
yang sedang jatuh cinta dengan suaminya, tapi ia berfikir alangkah sempurnanya
lelakinya jika mengenakan baju seperti yang ia bawa.
“Mas Khautar, aku melihat ada kesempurnaan dari
dirimu. Tapi untuk melengkapi kesempurnaan itu maukah mas mengenakan baju ini.
Maaf jika aku menyinggung perasaanmu,” kata-katanya yang tertatah bukan karena
ia takut lagi, tetapi karena ia malu dengan orang yang baru ia cintainya kini.
“ Kesempurnaan itu milik-Nya tak ada kesempurnaan di
diriku,” ia menerimanya dengan muka yang dingin kemudian ia berlalu. Saat
berjalan membelakangi Diyanah, ia tersenyum. Rupanya ia telah mengetahui bahwa
sekarang istrinya mulai benar-benar mencintainya.
Waktu
demi waktu telah ia lalui dengan keluarga kecil yang hangat. Semakin hangat
dengan berita bahwa Diyanah telah hamil. Ini yang ia tunggu-tunggu selama
beberapa bulan terakhir.
“ Bagaimana jika aku telah tiada sebelum aku
menggendong bayiku?” tanyanya yang aneh.
“ Apa? Apakah Mas Khautar akan membiyarkan bayi kita
lahir tanpa sosok sepertimu dan aku engkau biarkan merasakan sakitnya
melahirkan tanpamu, Mas Khautar tahu? Jika mas ada di sampingku, semua rasa
sakit hilang. Bahkan sehari tak melihatmu, hati ini sakit. Jangan tinggalkan
aku,” ucapnya sambil menangis seperti halnya anak kecil yang mau ditinggal
pergi ibunya.
Kemudian suaminya memeluknya untuk menenangkan
hatinya.” Jangan tinggalkan aku mas. Karena hanya Mas Khautar yang kumiliki,”
kata-kata Diyanah di pelukannya.
Hari
yang cerah menyelimuti hati Diyanah. Ia mencoba melupakan kata-kata suaminya
semalam. Ia mulai menyadari kalau Mas Khautar tak terlihat setelah subuh tadi
hingga sekarang. Ia mau mengajaknya ke sebuah taman favoritnya. Ia melihat Mas
Khautar sedang sujud di masjid. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Ia mendekati
Mas Khautar dan mencoba membangunkannya, tapi ia tak kunjung bangun. Kemudian
hatinya terasa sakit. Ia menyadari bahwa suaminya telah tiada di sujud terakhirnya.
Berita duka mulai menyelimuti Pondok Pesantren Bahauddin.
Ia
mulai menangis terisak, yang awalnya hanya meneteskan air mata di samping
tempat istirahat suaminya untuk selama-lamanya. Lembaran syair yang ia bawa sedari tadi di
genggamnya erat seperti hatinya yang tak mau kehilangan Mas Khautar. Suasana
pemakaman yang semakin sore semakin menyeramkan. Kyai membujuknya untuk pulang
karena hari semakin gelap. Ditinggalnya pemakaman suaminya, yang selalu banyak
santri berziarah di tempat itu.