Jumat, 11 April 2014

seputar cerita pendek



LEWAT SYAIR
Oleh Melya Dwi Astuti
Sepi merayap, sunyi senyap, dingin menusuk kulit, wangi yang menebar dimana-mana, itulah keadaan tempat dimana ia berada saat ini. Wanita 25 tahun yang bernama Diyanah Zabir yang berarti beragama kuat, duduk di samping tempat suaminya beristirahat. Sambil melantunkan doa, ia menatap lembaran kertas berisi syair-syair karyanya waktu masih menjadi seorang santri, tak sadar air matanya mulai meleleh. Sebelum ia mengusap air matanya dengan saputangan, air matanya telah mengering tertiup angin yang semakin sore semakin kencang. Ia mulai teringat Desember setahun yang lalu, saat pertemuan pertama dan saat-saat bersama dengan  Danial Kauthar Zahin yang berarti nikmat yang banyak  dari kecerdikan, yang dipanggilnya Mas Kauthar, suaminya.
Berawal dari syair karya Diyanah Zabir tentang makna kehidupan yang dipajang di mading Pondok Pesantren Bahauddin. Sehari setelah pemajangan syairnya, Diyanah penuh dengan kiriman bunga, hadiah, dan pujian. Bagaimana mereka tidak terkesima dengan karyanya, inspirasi itu diambil dari kisahnya waktu ia masih menjadi anak jalanan yang tak tentu arah hidupnya, kemudian ia bertemu dengan Kyai Sa’id yang mengajaknya untuk mencari ilmu di pondok pesantrennya. Ia mendalami ilmu agama Islam, ia mendekatkan diri dengan Allah. Ia juga tak lupa untuk mendoakan kedua orang tuanya yang telah tiada, ia menangis jika mengingat kedua wajah mereka. Tetapi Kyai Sa’id megajarkan untuk menjadi manusia yang tegar dan selalu bertawakal kepada Allah. Hingga kini ia menjadi murid kepercayaan kyai.
Anak kyai yang bernama Kauthar, menceritakan betapa terkesima dirinya membaca syair karya Diyanah Zabir itu.
“Abi, karya ini luar biasa. Baru pertama kalinya  aku membaca syair sehebat itu. Ini membuat aku tersadar betapa besarnya kasih sayang abi dan umi, betapa beruntungnya aku hidup seperti ini,” puji seseorang yang sering dipanggil preman pondok pesantren oleh teman-teman kuliahnya yang tiba-tiba berkata lebih halus.
“Kau sudah bertemu dengan Diyanah atau sudah mengirimkan hadiah sebagai pujian untuknya?”tanya kyai pada anak bungsunya.
“Ada apa ini? Kok ada kata Diyanah,”tanya umi dengan penasaran yang tiba-tiba datang dari dapur.
“Ini umi, anak bungsu kita terkesima dengan karya Diyanah,” jelas kyai.
Belum selesai membicarakan karya Diyanah, terdengar ucapan salam.”Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, lho sudah pulang? Kapan-kapan calon menantu abi sama umi diajak kesini, kita ingin bertemu dengannya,” perintah umi kepada anak sulungnya yang bernama Ghibran.
            Mendengar ucapan umi tentang pacar Mas Ghibran yang katanya seorang Dosen Fiqih muda, dia tidak tahan mendengarnya karena selama ini dia hanya dekat dengan gadis yang jauh dengan Tuhannya. Dia langsung meninggalkan ruang tengah.
            Seminggu, dua minggu sejak pemajangan syair ia belum juga memberikan ucapan ataupun hadiah yang sudah ia beli dua minggu yang lalu yaitu sebuah baju muslim  berwarna putih yang indah, ia tak mau menitipkan barangnya itu kepada orang lain, ia ingin secara langsung memberikannya kepada Diyanah. Tetapi, ia berfikir bahwa seorang Diyanah yang pintar mengaji tak mau bertemu dengan orang sepertinya.
“Mana mungkin Diyanah mau menemuiku mungkin malah takut melihat diriku yang seperti ini. Sadar dong!!!” fikirnya, padahal Diyanah mau menemui siapa saja asal tidak mengganggunya.
“Ehm, Assalamu’alaikum” ucapan salam Ghibran yang tiba-tiba datang.
“Wa’alaikumsalam. Ada apa mas?” jawab Khautar sambil menyembunyikan hadiah untuk Diyanah.
“Gini ya, pesan mas, temui saja dia. Dia tidak memandang siapa yang dia temui. Kamu kan belum pernah bertemu dengan dia? Gimana kamu mau bertemu dengan dia, shalat saja kamu di rumah, terus tidak pernah mengunjungi pondok pesantren.”lontar kakaknya.
“Tapi pesan mas, sebelum bertemu dengan dia, ubah dulu dirimu,”ucap ustad muda yang sambil berlalu meninggalkan adiknya.
“Kini 3 minggu sudah, hadiahnya belum gue berikan. Mana umi udah curiga kalau gue yang tiba-tiba lembek gini.”
            Di ruang tengah  ia seperti berbicara serius pada ayahnya.
“Abi, abi sebenarnya sudah tahu kan kalau aku,” tanya Khautar.
Belum selesai Khautar bicara, abi langsung menyambungnya,”Sudah dari pertama syair itu dipajang. Berikanlah langsung benda itu. Abi tidak mau anak abi tidak jantan seperti ini.”
“Baiklah abi, aku akan segera memberikan hadiah ini, dan juga aku akan mengucapkan kalau aku akan menikah dengannya. Karena syair itu mengubah segalanya,”jawab Khautar tanpa berfikir panjang.
“Apa ? menikah itu tidak semudah apa yang kau bicarakan. Lagi pula kamu belum tau Diyanah,” ucap kyai yang begitu kaget mendengar anaknya mau menikah.
“Anggap saja ini permintaan terakhirku kepada abi, aku benar-benar ingin hidup berdampingan dengannya. Saat aku membaca syairnya, hatiku menjadi tenang. Apalagi dapat hidup berdampingan dengan dia pasti hidupku akan damai,” anak itu menjawab dengan nada memaksa.
            Kyai yang mendengar permintaan anaknya, jadi tidak bisa tidur. Karena dia khawatir apakah Diyanah mau menikah dengannya dan apakah Khautar dapat manjalankan rumah tangganya. Umi yang tidur disampingnya juga ikut memikirkannya.
Pagi harinya, karena merupakan pagi yang cerah, para santri berhamburan ke halaman untuk berolahraga seperti yang telah dijadwalkan oleh Pak Aldon. Kyai mengajak Khautar untuk menemui Diyanah seperti apa yang telah direncanakan dirinya dengan istrinya.
“Apa kamu jadi mau bertemu dengan Diyanah?” tanya ayahnya.
“Jadi, umi sama abi setuju dengan  apa yang akan aku lakukan?” ungkap Khautar sambil memeluk  ayahnya.
            Kebetulan Diyanah baru ada di serambi masjid sendirian. Kyai dan anaknya mulai menemuinya. Perasaan Khautar yang tidak tenang terus-menerus bergemuruh di dalam dadanya. Saat sudah mendekati serambi, kyai memanggil Diyanah. Kemudian mereka bertemu di serambi masjid.
“Maaf kyai, ada apa ini?’ tanya Diyanah yang agak kaget melihat diri Khautar.
“Ini ada seorang penggemarmu yang mau menemui mu. Saya tinggal sebentar ya. Assalamu’alaikum,” jawab kyai sambil meninggalkan mereka berdua agar dapat leluasa. Ia juga menyuruh marbot Masjid mengawasi mereka, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Perkenalkan, aku Khautar. Ini ada hadiah untukmu atas kehebatan syairmu, tapi ini sudah sangat terlambat,” Khautar yang berusaha bersikap tenang dan memandang wajah Diyanah seperti sumber pancaran cahaya.
“Terimakasih. Saya Diyanah. Saya baru tahu jika anda putra dari kyai yang bernama Khautar. Selama ini saya hanya mendengar nama yang luar biasa itu dari mulut ke mulut,” jawabnya singkat dengan senyuman yang tercampur dengan rasa takut.
“Yah, terimakasih juga atas pujianmu. Tapi aku hanya mau mengatakan,”
“Mau mengatakan apa mas?” tanya Diyanah yang penuh penasaran.
“Apa kamu takut melihatku, apa kamu risih memandangku?” tanya Khautar yang agak keras.
“Sama sekali tidak,” dia berusaha berbohong agar tidak menyakiti hati Khautar.
“Baiklah, aku hanya akan mengatakan. Menikahlah denganku!” kata-kata Khautar yang lebih halus.
            Mendengar kalimat dari mulut Khautar yang tiba-tiba manis itu, dia seakan mau menangis. Selama ini dia tidak pernah berfikir, kalau dia akan menikah dengan seseorang yang berpenampilan seperti preman.
“Bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang sepertinya? Bagaimana masa depanku jika aku hidup berdampingan  bersama orang yang baru ku kenal untuk sampai hayatku. Lagi pula aku tidak mencintainya. Tetapi dia putra kyai, bagaimanapun juga aku harus menghormati dan menghargainya, tanpa beliau aku tak akan berdiri di sini. Jika aku menolak, aku dikira tidak tahu balas budi. Bertahun-tahun ini yang menghidupiku juga kyai. Aku tinggal dan menuntut ilmu di sini tanpa biaya. Apakah aku harus membayarnya dengan cara seperti ini? Ya Allah berikanlah petunjuk kepada hambamu ini,” kata-kata dalam hatinya yang penuh tanda tanya.
            Dia meminta waktu untuk menjawab pertanyaan yang sangat berat baginya. Dalam shalat malamnya, doanya penuh dengan kata Khautar, rasa gundah, sulit, bimbang, dan bingung. Baru pertama kalinya bertemu dengan lelaki yang belum pernah tersimpan dalam  hatinya, tetapi nama Mas Ghibran sering muncul di dalam hatinya, karena ia sering mengisi ceramah di setiap ngajinya. Lelaki dambaan santri putri di Pondok Pesantren Bahauddin itu sangat jauh berbeda dengan adiknya. Ia telah lama mengagumi sosok seperti Mas Ghibran. Bahkan ia pernah berangan-angan menjadi istri Mas Ghibran. Selama ini Mas Ghibran selalu dekat dengannya tapi hanya semata-mata untuk berdiskusi dengannya mengenai pengajian di pondok pesantren.
            Seminggu setelah pertanyaan dari Khautar dan tepatnya 4 minggu setelah pemajangan syair Diyanah Zabir. Diyanah mengatakan bahwa,” Aku akan menikah denganmu.” Khautar yang tak pernah sebahagia itu memunculkan terik wajah yang amat bahagia, bersinar hangat seperti fajar yang baru terbit dari ufuk timur.
            Persiapan pernikahan telah matang, Diyanah yang semakin cantik dan anggun dengan busana pengantin yang ia kenakan, Khautar yang tampak tampan dengan jas putihnya, abi dan umi begitu terkesima melihat wajah binar dari Khautar yang baru mereka lihatnya kali ini, mereka juga baru menyadari Khautar lebih tampan dari Ghibran, yang waktu itu ia memakai jas putih juga karena pernikahan dilaksanakan oleh 2 pasang pengantin.
            Kehidupan rumah tangga Khautar dengan Diyanah di pikiran kyai sepertinya akan dingin, jika terus menerus dingin akan ada masalah dan membuat adanya perpisah. Berbeda dengan rumah tangga Ghibran yang selalu hangat diselumiti dengan cinta mereka, tapi dugaan itu salah selama rumah tangga mereka berjalan, banyak perubahan dari sikap Khautar. Diyanah baru sekarang tertawa lepas, yaitu saat-saat bersama Khautar. Entah kenapa, kebersamaan dengan Khautar yang tidak dilandasi dengan cinta berjalan senyaman itu. Setelah sholat berjamaah, pasangan pengantin baru itu mulai tadarus Al-Quran di rumah barunya. Kali ini yang terkesima Diyanah, waktu mendengar Ghibran membaca Al-Quraan dia terkagum, tapi kali ini ia lebih terkagum mendengar Khautar yaitu sosok lelaki seperti preman melantunkan ayat-ayat Al-Quran yang teramat indah. Hingga air matanya menetes. Setelah membaca Al-Quran, Khautar mendapati istrinya meneteskan bulir-bulir air matanya, kemudian Khautar  memeluknya.
            Pagi yang tidak mendukung, langit dipenuhi oleh barisan-barisan awan hitam, dan mentari yang menyembunyikan senyuman hangatnya. Ia masih teringat dengan lantunan- lantunan semalam oleh suaminya, ini membuat hatinya tenang dan rasa yang belum pernah ia rasakan muncul. Seharusnya pagi cerah, secerah hatinya yang sedang jatuh cinta dengan suaminya, tapi ia berfikir alangkah sempurnanya lelakinya jika mengenakan baju seperti yang ia bawa.
“Mas Khautar, aku melihat ada kesempurnaan dari dirimu. Tapi untuk melengkapi kesempurnaan itu maukah mas mengenakan baju ini. Maaf jika aku menyinggung perasaanmu,” kata-katanya yang tertatah bukan karena ia takut lagi, tetapi karena ia malu dengan orang yang baru ia cintainya kini.
“ Kesempurnaan itu milik-Nya tak ada kesempurnaan di diriku,” ia menerimanya dengan muka yang dingin kemudian ia berlalu. Saat berjalan membelakangi Diyanah, ia tersenyum. Rupanya ia telah mengetahui bahwa sekarang istrinya mulai benar-benar mencintainya.
            Waktu demi waktu telah ia lalui dengan keluarga kecil yang hangat. Semakin hangat dengan berita bahwa Diyanah telah hamil. Ini yang ia tunggu-tunggu selama beberapa bulan terakhir.
“ Bagaimana jika aku telah tiada sebelum aku menggendong bayiku?” tanyanya yang aneh.
“ Apa? Apakah Mas Khautar akan membiyarkan bayi kita lahir tanpa sosok sepertimu dan aku engkau biarkan merasakan sakitnya melahirkan tanpamu, Mas Khautar tahu? Jika mas ada di sampingku, semua rasa sakit hilang. Bahkan sehari tak melihatmu, hati ini sakit. Jangan tinggalkan aku,” ucapnya sambil menangis seperti halnya anak kecil yang mau ditinggal pergi ibunya.
Kemudian suaminya memeluknya untuk menenangkan hatinya.” Jangan tinggalkan aku mas. Karena hanya Mas Khautar yang kumiliki,” kata-kata Diyanah di pelukannya.
            Hari yang cerah menyelimuti hati Diyanah. Ia mencoba melupakan kata-kata suaminya semalam. Ia mulai menyadari kalau Mas Khautar tak terlihat setelah subuh tadi hingga sekarang. Ia mau mengajaknya ke sebuah taman favoritnya. Ia melihat Mas Khautar sedang sujud di masjid. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Ia mendekati Mas Khautar dan mencoba membangunkannya, tapi ia tak kunjung bangun. Kemudian hatinya terasa sakit. Ia menyadari bahwa suaminya telah tiada di sujud terakhirnya. Berita duka mulai menyelimuti Pondok Pesantren Bahauddin.
            Ia mulai menangis terisak, yang awalnya hanya meneteskan air mata di samping tempat istirahat suaminya untuk selama-lamanya.  Lembaran syair yang ia bawa sedari tadi di genggamnya erat seperti hatinya yang tak mau kehilangan Mas Khautar. Suasana pemakaman yang semakin sore semakin menyeramkan. Kyai membujuknya untuk pulang karena hari semakin gelap. Ditinggalnya pemakaman suaminya, yang selalu banyak santri berziarah di tempat itu.